Sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, pengembangan keprofesian berkelanjutan merupakan salah satu unsur utama yang diberikan angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru. Dengan demikian, untuk memenuhi angka kredit dalam kenaikan jabatan fungsional, semua guru wajib melaksanakan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan. Salah satu kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah penyusunan Publikasi Ilmiah.

Untuk memotivasi guru dalam kegiatan publikasi ilmiah, Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman secara rutin setiap tahun menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti workshop pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif; Publikasi Karya Ilmiah Guru; serta menyelenggarakan Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) Guru jenjang TK, SD, dan SMP.

Pada tahun 2017 lomba KTI Guru telah terselenggara pada akhir bulan September 2017.  Dilihat dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan Publikasi Karya Ilmiah Guru, lomba KTI guru, dan guru yang telah berhasil membuat karya tulis dari tahun ke tahun masihlah sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah guru yang ada di Kabupaten Sleman.

Mengapa demikian?Apakah karena membuat karya tulis itu sebuah hal yang tidak mudah dan memerlukan waktu yang banyak?Atau karena hal yang lain?

Berikut disampaikan beberapa tips seputar menulis oleh C. Cahayaningsih (Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Guru jenjang SMP tahun 2017 tingkat Kabupaten Sleman),”Menulislah dan Kita menjadi Suka Menulis. Menulis, menulis, dan menulislah, yakin pasti bisa. Menulis Karya Tulis Ilmiah memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa kita lakukan. Dengan tekad dan kemauan yang kuat, kita akan bisa menghasilkan karya tulis. Memang, terkadang pada saat awal-awal menulis, sering kita merasa bahwa tulisan yang kita buat sepertinya kurang bagus, bahkan tidak layak dibaca atau pun dipublikasikan. Ingat, itu hanya anggapan kita saja. Kita harus percaya diri bahwa tulisan kita layak dibaca oleh orang lain, maka publikasikanlah melalui berbagai media atau diikutsertakan di dalam lomba, desiminasi, atau pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya”.

Ketika tulisan kita diikutsertakan dalam lomba, desiminasi, atau pertemuan-pertemuan ilmiah lainnya,  ini merupakan kesempatan emas untuk mendapatkan kritikan dan tanggapan dari para dewan juri dan audien. Kita tidak perlu berkecil hati, tetapi justru senang bahwa kita menjadi tahu letak kekurangan karya tulis yang kita buat. Dari sinilah kita mendapat pelajaran yang berharga sebagai bekal untuk memperbaiki karya tulis kita. Selain itu, kritik dan tanggapan ini juga menjadi bekal bagi kita ketika nantinya menulis karya dengan topik yang berbeda. Semakin sering kita mengikutsertakan karya yang kita buat, akan semakin baik kualitas karya tulis. Menjadi juara pun sudah di depan mata dan jika sudah meraih juara sisihkan hadiah untuk membeli buku.

Agar bisa menulis dengan baik, kita perlu membiasakan diri untuk membaca. Dengan tekun membaca, banyak manfaat yang kita peroleh. Kita akan mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menulis, mengembangkan gagasan, memunculkan kreativitas, menyusun kalimat-kalimat yang efektif, menyajikan data, dan lain-lain. Hal itu dikarenakan bahwa dalam menulis Karya Tulis Ilmiah bukanlah jenis tulisan yang berupa asumsi-asumsi saja, melainkan tulisan yang berdasarkan data-data dan referensi.

Selain tekun membaca, kita harus terbiasa mengarsipkan dokumen-dokumen yang kita perlukan sebagai data yang akan dianalisis. Hal ini penting karena data-data inilah yang menjadi dasar kita dalam menyusun karya tulis ilmiah.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah adanya kreativitas, kejelian dalam menangkap gejala dan memecahkan masalah. Memunculkan kreativitas dan kejelian memang kadang-kadang tidak mudah. Selain dengan membaca, cara yang bisa kita lakukan, yaitu menyisihkan waktu sejenak selesai kita mengajar di kelas. Kita perlu merefleksi terhadap pembelajaran yang telah kita lakukan di kelas, kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang ada. Nah, dari kekurangan-kekurangan itulah kita bisa menentukan ide tulisan serta solusi yang akan kita ambil untuk mengatasi kekurangan dalam pembelajaran. Kita juga tidak perlu malu atau ragu-ragu untuk bertanya kepada narasumber atau seseorang yang kita anggap ahli  dalam hal tulis-menulis karya ilmiah.

Pada prinsipnya tidak perlu bimbang untuk mulai menulis. Tidak ada kata sulit jika kita memang bersungguh-sungguh ingin menghasilkan sebuah karya tulis. Pepatah mengatakan “Barang siapa bersungguh-sungguh berhasillah dia”. Tidak ada kata terlambat untuk mulai menulis. Dengan niat dan tekad yang kuat, kita wujudkan  “Guru Mulia karena Karya” (slogan Kemendikbud dalam lomba Inovasi Pembelajaran Tahun 2015). Niscaya Allah melihat, melindungi, dan memberkati jerih payah kita, amin. Mari  menulis! (uliel/bid.smp)